mansilladelasmulas.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) menurun drastis hingga hanya 12 kasus pada Desember 2025.
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, menyampaikan hal tersebut usai meninjau Program MBG 2026 di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis.
Ia menegaskan, penurunan kasus menjadi motivasi bagi Badan Gizi Nasional (BGN) untuk terus menjaga keamanan pangan di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program ini ditujukan mencapai zero accident atau nol kejadian keracunan MBG.
“Kemenkes terus tegas demi menjaga supaya keracunan pangan menjadi nol.
Kita bersyukur selama bulan Desember 2025 yang mengalami keracunan pangannya hanya 12 kejadian.
Dulu kasusnya ribuan, sekarang bahkan selama 19 hari terakhir sudah zero accident karena pengawasan ketat,” ujar Wamenkes.
Kemenkes secara rutin memperbarui data SPPG yang telah lulus Higiene Sanitasi (SLHS) setiap pagi.
Data ini menjadi acuan bagi BGN untuk memantau dan mengambil langkah pencegahan.
Benjamin menjelaskan, selain menjaga keamanan pangan, Kemenkes meningkatkan intervensi gizi.
Jumlah takaran makanan diperiksa dan disesuaikan, termasuk memeriksa alergi untuk penerima manfaat.
“Setelah semua berjalan, makin bagus pengawasan, maka kita akan capai penurunan stunting.
Angka keracunan makin hari makin turun,” katanya.
Baca juga: “Kemenperin fokus pulihkan sentra IKM alas kaki dorong ekonomi”
Pencapaian MBG Sepanjang Tahun 2025
Sepanjang 2025, BGN membangun 19.188 SPPG di seluruh Indonesia.
Program ini menjangkau 55,1 juta penerima manfaat, mencakup siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menargetkan jumlah penerima manfaat meningkat menjadi 82,9 juta orang pada Februari 2026.
Langkah ini mendukung program pemerintah dalam peningkatan gizi nasional dan penurunan stunting.
Program MBG menjadi salah satu upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama anak-anak dan ibu hamil.
Keracunan makanan sebelumnya menjadi perhatian serius karena dapat menurunkan kepercayaan masyarakat dan menghambat efektivitas program.
Pengawasan ketat, pelatihan petugas, dan standar higiene sanitasi menjadi kunci keberhasilan penurunan kasus.
Data yang akurat dan rutin membantu pemerintah menilai efektivitas setiap dapur SPPG.
Selain itu, edukasi kepada penerima manfaat dan keluarga juga diberikan.
Peserta MBG diajarkan pentingnya kebersihan makanan dan pola makan seimbang.
Dengan kasus keracunan menurun drastis, keamanan pangan menjadi lebih terjamin.
Masyarakat dapat menerima program MBG dengan lebih percaya diri.
Penurunan keracunan juga membuka peluang intervensi gizi lebih lanjut.
Jumlah takaran gizi dapat ditingkatkan dan jenis makanan disesuaikan sesuai kebutuhan spesifik penerima manfaat.
Keberhasilan ini menunjukkan sinergi antara Kemenkes, BGN, dan sekolah/SPSG berjalan efektif.
Monitoring rutin dan kolaborasi yang baik menjadi fondasi pencapaian target kesehatan masyarakat.
Benjamin menekankan, pencapaian penurunan kasus hanya awal dari tujuan zero accident keracunan MBG.
Upaya terus dilakukan untuk menjaga keamanan dan kualitas gizi di seluruh SPPG.
Ke depan, pemerintah berencana meningkatkan cakupan MBG, memperluas jumlah dapur SPPG, dan melibatkan lebih banyak penerima manfaat.
Target utama tetap menurunkan stunting, menjaga kesehatan masyarakat, dan memastikan setiap orang menerima gizi yang aman dan cukup.
Program MBG yang terkelola dengan baik menjadi contoh keberhasilan intervensi gizi skala nasional.
Dengan pengawasan ketat, edukasi gizi, dan kolaborasi lintas instansi, kasus keracunan dapat ditekan seminimal mungkin.
Baca juga: “Heboh ‘Super Flu’ di RI, Sekolah Bakal Online Lagi? Ini Kata Kemenkes”




Leave a Reply