mansilladelasmulas.com – Peternakan rakyat kerap dipersepsikan sebagai sektor pinggiran yang luput dari perhatian. Aktivitasnya berlangsung di kandang sederhana dan halaman rumah warga. Namun, gambaran itu tidak sepenuhnya berlaku di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Di wilayah ini, domba dan kambing menjadi bagian penting dari budaya, ekonomi, dan identitas masyarakat setempat.
Suasana tersebut terasa kuat pada Minggu pagi, 21 Desember. Arena ketangkasan domba dan kambing di kawasan perbukitan Rancakalong dipenuhi sorak penonton. Selama dua hari, ratusan ternak diturunkan ke arena. Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan simbol hidupnya peternakan rakyat yang terus berkembang.
Baca juga: “Jaksel Instruksikan Jajaran Pastikan Keamanan Nataru Terjaga”
Riuh arena menandai lebih dari sekadar kompetisi. Di baliknya, tersimpan harapan tentang masa depan peternakan rakyat. Tradisi lokal bertemu pendekatan modern untuk menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Ketangkasan Domba sebagai Ruang Budaya dan Silaturahmi
Ketua Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia Sumedang, Jajang Suryana, menilai arena ketangkasan memiliki makna sosial yang kuat. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang berkumpul peternak dari berbagai daerah di Jawa Barat.
“Melalui acara seperti ini, silaturahim orang Sunda makin kuat,” ujar Jajang. Ia menambahkan bahwa pertemuan tersebut berdampak langsung pada peningkatan kualitas budidaya. Perputaran ekonomi masyarakat lokal pun ikut terdorong.
Bagi masyarakat Sunda, ketangkasan domba bukan tradisi baru. Aktivitas ini telah hidup dan diwariskan lintas generasi. Namun, dalam perhelatan kali ini, maknanya diperluas. Arena menjadi ruang temu antara budaya, hobi, dan kepentingan ekonomi.
Kegiatan tersebut tidak hanya merayakan ulang tahun organisasi peternak. Ia berkembang menjadi panggung kolaborasi. Peternak, pengunjung, dan pelaku usaha lokal saling terhubung dalam satu ekosistem.
Dari Kandang ke Pasar yang Lebih Luas
Jajang menjelaskan bahwa tradisi ketangkasan terus diperbarui agar tetap relevan. Peternak didorong untuk tidak hanya bertahan di kandang. Mereka diarahkan naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
Pendekatan edukatif menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Panitia menghadirkan penyuluhan kesehatan hewan dan teknik pemeliharaan. Strategi peningkatan kualitas ternak juga diperkenalkan kepada peserta.
Hewan yang dirawat dengan pakan dan standar kesehatan baik memiliki daya saing lebih tinggi. Dari kandang rakyat, lahir ternak unggulan dengan nilai jual signifikan. Untuk kualitas tertentu, harga puluhan hingga ratusan juta rupiah bukan hal asing.
“Ketika kualitas ternak dipamerkan, harga ikut naik,” kata Jajang. Menurutnya, kondisi tersebut sangat membantu ekonomi kerakyatan sektor peternakan.
Arena ketangkasan pun menjelma rumah besar bagi peternak. Mereka saling berbagi pengalaman dan memperluas jejaring. Komunikasi antarpeternak terjalin lebih intensif melalui pertemuan langsung.
Ternak Unik dan Peluang Nilai Tambah
Di arena yang sama, Tia, peternak muda asal Sumedang, memamerkan kambing pygmy miliknya. Jenis kambing ini masih jarang dikenal masyarakat luas. Ukurannya kecil, namun nilai jualnya tinggi.
“Kambing pygmy ukurannya mini, tapi harganya bisa belasan juta rupiah,” ujar Tia. Ia menyebut banyak pengunjung baru pertama kali melihat jenis tersebut.
Kehadiran ternak unik memperkaya wawasan pengunjung. Hal ini juga membuka peluang pasar baru bagi peternak. Diferensiasi produk menjadi kunci meningkatkan nilai tambah.
Data Dinas Perikanan dan Peternakan Sumedang memperkuat potensi tersebut. Per Februari 2025, populasi domba mencapai 82.040 ekor. Populasi kambing tercatat 34.690 ekor.
Sapi potong berjumlah 29.400 ekor, sedangkan sapi perah mencapai 4.215 ekor. Angka ini menunjukkan peternakan rakyat sebagai kekuatan ekonomi daerah. Sektor ini bukan aktivitas sampingan semata.
Arena Ketangkasan sebagai Magnet Wisata Lokal
Dengan kemasan tepat, ketangkasan domba berpotensi menjadi daya tarik wisata. Tradisi lokal berpadu dengan minat publik. Pengunjung mendapatkan pengalaman khas yang jarang ditemui daerah lain.
Tiket masuk hanya berupa biaya parkir Rp5 ribu. Nilai ini terjangkau, namun berdampak bagi kas masyarakat. Petugas Linmas dilibatkan, begitu pula warga sekitar.
Lebih dari 25 kios UMKM berdiri di lokasi acara. Puluhan pedagang kaki lima memadati jalan sekitar arena. Aktivitas ini menggerakkan ekonomi kawasan perbukitan Rancakalong.
Citra Dewi, pengunjung asal Cimahi, mengaku sengaja datang ke Sumedang. Ia tertarik melihat langsung ketangkasan domba. “Kambing-kambingnya bagus, terutama yang kecil,” katanya.
Menurut Citra, acara ini cocok sebagai destinasi wisata keluarga. Selain hiburan, pengunjung mendapat edukasi tentang ternak. Interaksi langsung menciptakan pengalaman berkesan.
Ekosistem Hidup yang Terus Berkembang
Lebih dari 200 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut. Ratusan domba dan kambing diturunkan ke arena. Ini menegaskan bahwa peternakan rakyat memiliki ekosistem hidup.
Di sela kontes, panitia membagikan susu kambing kepada pengunjung. Kegiatan sosial ini menegaskan nilai manfaat peternakan. Keuntungan ekonomi berjalan seiring kepedulian sosial.
Penyelenggaraan acara dirancang bertahap. Hari pertama dikhususkan bagi peternak Sumedang. Hari berikutnya dibuka untuk peserta umum.
Pendekatan ini menegaskan keberpihakan pada peternak lokal. Kualitas kompetisi tetap terjaga. Silaturahmi dan peningkatan budidaya menjadi tujuan utama.
Tradisi Lokal sebagai Motor Ekonomi Rakyat
Apa yang terjadi di arena hanya berlangsung dua hari. Namun, dampaknya jauh lebih panjang. Ketangkasan domba menjadi cermin masa depan peternakan rakyat.
Tradisi lokal yang dirawat dengan pendekatan modern mampu menggerakkan ekonomi. Kolaborasi antara peternak, masyarakat, dan pemerintah menjadi kunci. Sumedang menunjukkan bahwa peternakan rakyat tidak sekadar bertahan.
Dari kandang sederhana di desa, tumbuh harapan yang nyata. Peternakan rakyat bergerak maju dengan identitas, nilai, dan daya saing sendiri.
Baca juga: “Bupati Herdiat: Expo Ternak dan Ikan 2025 Bukan karena Ciamis Banyak Uang”




Leave a Reply