mansilladelasmulas.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pemulihan dan peningkatan daya saing sentra industri kecil dan menengah (IKM) alas kaki sebagai penopang ekonomi daerah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan, sentra IKM menghadapi berbagai tantangan struktural yang memerlukan intervensi kebijakan konsisten.
Tantangan itu meliputi keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen dan keuangan, serta minimnya inovasi produk di tengah persaingan, termasuk produk impor. “Selain itu, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan persaingan ketat dari produk impor,” ujar Agus.
Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin melaksanakan program pembinaan terintegrasi. Program ini mencakup peningkatan literasi digital, bimbingan teknis produksi, hingga pendampingan usaha berkelanjutan. Tujuannya memastikan sentra IKM mampu pulih, bertahan, dan tumbuh secara berkelanjutan.
Baca juga: “KAI sebut penjualan tiket Nataru capai 4,1 juta”
Fokus pada Sentra IKM Alas Kaki Ciomas
Salah satu sentra yang menjadi perhatian utama adalah sentra IKM alas kaki di Ciomas, Kabupaten Bogor. Hasil kunjungan dan dialog dengan para perajin menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat pascapandemi memengaruhi kinerja usaha.
Selain itu, isu regenerasi perajin menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar pelaku usaha berasal dari generasi senior yang belum sepenuhnya adaptif terhadap teknologi dan pemasaran digital.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menegaskan, sentra IKM alas kaki memiliki peran strategis dalam menopang industri nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin, industri alas kaki dan kulit mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025. Nilai investasi sektor ini mencapai lebih dari Rp18 triliun.
Kolaborasi dan Program Pembinaan Terpadu
Untuk mempercepat pemulihan sentra IKM Ciomas, Ditjen IKMA bekerja sama dengan Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor.
Kolaborasi diwujudkan melalui program pembinaan yang berlangsung sejak akhir 2025. Program difokuskan pada tiga aspek utama: peningkatan literasi digital, bimbingan teknis desain dan pola alas kaki, serta pendampingan usaha oleh mentor dari perguruan tinggi.
Direktur IKM KSK Budi Setiawan menjelaskan, sebanyak 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas terlibat langsung. Para perajin mendapat pelatihan intensif untuk meningkatkan kemampuan produksi dan desain.
Harapan dan Pandangan ke Depan
Menurut Menperin Agus Gumiwang, langkah ini tidak hanya mendorong pemulihan ekonomi daerah, tetapi juga membangun fondasi jangka panjang untuk daya saing nasional. “Kami ingin sentra IKM alas kaki tidak hanya bertahan, tapi berkembang menjadi industri kreatif yang inovatif,” ujarnya.
Reni Yanita menambahkan, pendekatan terintegrasi diharapkan mampu mencetak generasi baru perajin yang adaptif terhadap teknologi digital, mampu memasarkan produk secara modern, dan mempertahankan kualitas produksi.
Dengan sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan pihak swasta, sentra IKM alas kaki Ciomas diharapkan menjadi model pemulihan dan pengembangan IKM di seluruh Indonesia. Program ini juga menekankan keberlanjutan usaha dan peningkatan kapasitas produksi untuk menghadapi persaingan global.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemulihan industri tidak sekadar bantuan finansial, tetapi mencakup peningkatan kapasitas, inovasi, dan strategi pemasaran modern. Hasilnya, sentra IKM alas kaki di Ciomas bisa terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.
Baca juga: “Dari Kelas ke Pabrik: Kemenperin Genjot Magang Terstruktur Model Swiss”




Leave a Reply